KALTARA, DISWAY.ID - Setiap tanggal gajian seharusnya menjadi momen yang menyenangkan. Namun bagi sebagian orang yang berada dalam posisi sandwich generation, hari itu justru sering dipenuhi dengan perhitungan dan juga kecemasan. Belum sempat memikirkan kebutuhan pribadi, pikiran sudah lebih dulu dipenuhi dengan daftar tanggung jawab.
Di usia yang seharusnya digunakan untuk mengejar mimpi, membangun karier, atau menikmati hidup, mereka justru harus belajar untuk menjadi orang dewasa lebih cepat dari seharusnya. Sandwich Generation tanpa memiliki banyak pilihan, mereka berdiri di tengah menjadi penopang di antara keluarganya sambil berusaha untuk bisa tetap bertahan secara mental, emosional, dan juga finansial.
Tidak jarang, rasa lelah itu dipendam sendiri karena mengeluh seperti bentuk ketidaksyukuran. Padahal di balik ketegaran yang terlihat ada banyak kegelisahan tentang masa depan, tabungan yang tidak kunjung terkumpul, mimpi-mimpi yang perlahan ditunda, serta memikirkan bagaimana bisa untuk bertahan hidup. Pada kenyataannya, begitulah realita dari sandwich generation.
BACA JUGA:Kenali Pelecehan Seksual, Dampak dan Cara Menghadapinya
Menjadi bagian dari sandwich generation sering kali terasa seperti berdiri di tengah badai. Di satu sisi ada orang tua dan keluarga yang perlu untuk dibantu. Namun di sisi lain terdapat masa depan sendiri yang juga menunggu perhatian. Di tengah semua itu, banyak anak muda harus belajar dewasa lebih cepat, memikul tanggung jawab sebelum sempat benar-benar menikmati hidup.
Tidak sedikit dari mereka yang pada akhirnya kelelahan secara fisik, mental, dan finansial. Namun di balik beratnya peran ini, terdapat cara-cara sederhana yang bisa dilakukan agar tetap bertahan tanpa harus kehilangan diri sendiri.
1. Buat Peta Keuangan yang Jelas
Langkah pertama adalah memahami ke mana uang yang dikeluarkan setiap bulannya. Catat penghasilan, kebutuhan keluarga, cicilan, dan kebutuhan pribadi. Maka dengan peta keuangan yang rapi, kamu bisa menghindari pengeluaran impulsif dan mulai bisa menyisihkan dana darurat, meski sedikit demi sedikit.
2. Pisahkan "Bantu" dan "Menanggung Semua"
Ingatlah, membantu keluarga memang adalah hal yang mulia, tetapi dengan menanggung semuanya sendirian bukanlah sebuah kewajiban mutlak. Belajarlah untuk bisa membedakan antara membantu sebatas kemampuan dan memaksakan diri hingga habis. Jika memungkinkan, ajak anggota keluarga lain untuk berbagi peran.
3. Bangun Batasan yang Sehat (Boundaries)
Banyak sandwich generation merasa bersalah saat berkata "tidak". Padahal batasan adalah bentuk perlindungan diri dan menolak permintaan di luar kemampuan bukan berarti durhaka, melainkan sebuah cara agar kamu bisa tetap kuat dalam jangka panjang.
BACA JUGA:Menelusuri Proses Hukum Pelecehan Seksual di Indonesia dan Dampaknya bagi Korban
4. Siapkan Dana Darurat Sejak Dini
Dana darurat sangat penting untuk menghadapi situasi tidak terduga, seperti sakit atau kehilangan pekerjaan. Idealnya simpan dana setara dengan 3-6 bulan pengeluaran. Mulai dari nominal yang kecil agar tidak terasa memberatkan.