Dari Perhatian Berlebihan hingga Pengabaian, Memahami Pola Love Bombing

Kamis 29-01-2026,22:56 WIB
Reporter : Nindya Previaputri
Editor : Nindya Previaputri

KALTARA, DISWAY.ID - Hubungan yang sehat umumnya berkembang secara bertahap, memberi ruang bagi dua individu untuk saling mengenal, membangun kepercayaan, serta menetapkan batas emosional yang jelas agar dapat terjauhnya dari love bombing.

Dalam kasus love bombing biasanya kedekatan justru hadir secara berlebihan sejak awal, ditandai dengan perhatian intens, pujian terus-menerus, dan janji masa depan yang datang terlalu cepat, sebelum kemudian berubah menjadi hubungan yang penuh kritik, jarak emosional, dan pengabaian.

Pola ini dalam kajian psikologi relasi dikenal sebagai love bombing, devaluasi, dan discard sebuah siklus hubungan tidak sehat yang kerap dibahas dalam konteks relasi manipulatif dan sering dikaitkan dengan kecenderungan narsistik, meski tidak dapat disimpulkan sebagai diagnosis.

BACA JUGA:Mengapa Remaja Mudah Tertarik pada Groomer? Kerentanan Remaja terhadap Manipulasi Emosional

Ada hubungan yang dimulai dengan intensitas emosional tinggi, terasa indah, dan meyakinkan tetapi perlahan berubah menjadi melelahkan dan menyakitkan tanpa adanya alasan yang jelas.

Dalam psikologi relasi, pola ini kerap dikenal sebagai love bombing, devaluasi, dan discard sebuah siklus yang sering muncul dalam hubungan manipulatif dan kerap dikaitkan dengan kecenderungan kepribadian tertentu Narcissistic Personality Disorder (NPD).

Pola ini tidak selalu mudah dikenali, terutama karena fase awalnya justru terasa menyenangkan. Banyak orang baru menyadari dinamika tidak sehat tersebut setelah relasi berakhir atau ketika dampaknya sudah terasa pada kondisi emosional dan kepercayaan diri mereka.

Love Bombing, Ketika Perhatian Datang Terlalu Cepat

Love bombing merupakan fase awal yang ditandai dengan perhatian berlebihan dalam waktu singkat. Seseorang bisa terlihat sangat romantis, penuh pujian, dan memberikan kesan seolah hubungan tersebut adalah sesuatu yang istimewa dan berbeda dari yang lain. Janji tentang masa depan sering muncul meski hubungan masih berada di tahap awal.

Pada fase ini, kedekatan emosional dibangun dengan cepat tanpa proses yang wajar. Korban kerap merasa dihargai, dipahami, dan menjadi pusat perhatian. Namun intensitas yang terlalu tinggi justru dapat menjadi tanda peringatan karena hubungan yang sehat biasanya berkembang secara bertahap bukan instan.

BACA JUGA:Memahami Child Grooming Saat Perhatian Berubah Menjadi Manipulasi, Begini Polanya!

Devaluasi, Perubahan Sikap yang Mengikis Diri

Setelah fase idealis, hubungan bisa memasuki tahap devaluasi. Perubahan ini sering terjadi secara halus. Pujian mulai berganti dengan kritik, perhatian berkurang, dan pasangan mulai membuat korban merasa kurang, salah, atau tidak cukup baik.

Dalam fase ini, korban sering terdorong untuk berusaha lebih keras demi mendapatkan kembali perhatian seperti di awal hubungan. Tanpa disadari, kondisi tersebut dapat memicu keraguan terhadap diri sendiri dan menurunkan kepercayaan diri. Banyak korban mulai mempertanyakan sikap dan perasaan mereka sendiri, meskipun perubahan tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan pribadi.

Discard, Penarikan Diri Secara Tiba-tiba

Fase discard merupakan tahap ketika hubungan diakhiri secara sepihak atau emosional. Bentuknya bisa berua pengabaian, sikap dingin, atau pemutusan hubungan tanpa penjelasan yang jelas. Dalam beberapa kasus, korban bahkan dibuat merasa seolah merekalah penyebab kegagalan hubungan.

Proses ini kerap meninggalkan kebingungan dan luka emosional. Tidak jarang, setelah fase ini pelaku kembali muncul untuk mencari perhatian atau validasi sebuah perilaku sebagai hoovering. Siklus ini dapat terus berulang jika tidak disadari dan dihentikan.

BACA JUGA:Bukan Cuma Chemistry, MBTI Juga Bisa Bantu Cari Pasangan Cocok, Ini Tipe MBTI yang Katanya Paling Serasi!

Kategori :

Terpopuler