Benarkah Kucing Bikin Mandul? Simak Penjelasan Lengkap Pakar Patologi Klinik

Selasa 06-01-2026,22:51 WIB
Reporter : Marieska Harya Virdhani
Editor : Marieska Harya Virdhani

KALTARA, DISWAY.ID - “Jangan pelihara kucing, nanti mandul.”

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar pernyataan tersebut. Namun, apakah hal tersebut benar adanya?

Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Dr drh Leni Maylina menepis anggapan tersebut.

Menurutnya, memelihara kucing tidak menyebabkan kemandulan secara langsung. 

“Isu yang kerap beredar di masyarakat tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan karena kucing itu sendiri,” ungkap Dr Leni dalam IPB Podcast yang tayang di kanal YouTube IPB TV terkait mitos dan fakta seputar hubungan memelihara kucing dengan kesehatan reproduksi manusia.

BACA JUGA:Sudah Waktunya Daging Anjing dan Kucing Dilarang di Indonesia

Ia menjelaskan, Toxoplasma gondii merupakan parasit protozoa berukuran sangat kecil. Hanya bisa dilihat di bawah mikroskop.

Tidak semua kucing terinfeksi parasit ini. Bahkan, berdasarkan sejumlah penelitian, jumlah kucing yang terinfeksi tergolong sangat kecil.

“Tidak semua kucing bisa terinfeksi Toxoplasma gondii. Banyak penelitian menunjukkan prevalensinya sangat rendah, apalagi pada kucing yang dipelihara di dalam rumah,” jelasnya.

Menurut Dr Leni, kucing dapat terinfeksi toksoplasma terutama jika memakan daging mentah atau hasil buruan seperti tikus yang telah mengandung kista parasit.

BACA JUGA:Punya Mata Unik, Menguak Rahasia Kucing Odd Eyes yang Menawan

Kucing yang terinfeksi dapat mengeluarkan parasit dalam bentuk ookista melalui feses. Namun, ookista tersebut tidak langsung bersifat infektif.

“Ookista yang keluar dari kotoran kucing itu awalnya belum infektif. Dia membutuhkan waktu sekitar satu sampai lima hari untuk menjadi infektif. Karena itu, membersihkan kotoran kucing setiap hari sangat penting,” katanya.

Ia menambahkan, kucing yang sudah pernah terinfeksi umumnya akan membentuk antibodi sehingga kecil kemungkinan kembali mengeluarkan ookista infektif di kemudian hari.

Untuk memastikan infeksi secara medis, pemeriksaan dapat dilakukan melalui feses kucing, meskipun hasilnya tidak selalu akurat. Pemeriksaan lanjutan seperti PCR atau uji imunologi juga dapat dilakukan di fasilitas kesehatan hewan.

Kategori :