“Dari sisi nutrisi, kulit kopi kering memiliki kandungan serat kasar dan energi yang cukup baik untuk pakan ruminansia, khususnya kambing,” jelas Prof Yuli.
Uji coba di lapangan juga menunjukkan kambing tetap mau mengonsumsi pakan mash ini, tidak menunjukkan penurunan nafsu makan, bahkan bobot badan tetap naik secara normal.
Kandungan serat dalam kulit kopi membantu fermentasi rumen, meski tetap diperlukan pengaturan dosis agar tidak melebihi ambang batas serat kasar dalam ransum.
BACA JUGA:Rutin Minum Kopi Ternyata Bisa Bantu Cegah Diabetes dan Penyakit Jantung, Asal Tak Berlebihan
Tidak hanya berdampak pada peternakan, program ini juga membawa manfaat lingkungan.
Volume limbah kulit kopi di desa mulai berkurang, bau menyengat pun tidak lagi tercium sekuat sebelumnya. Selain itu, risiko pencemaran air dan tanah akibat limbah kopi dapat ditekan.
“Ini menjadi bukti bahwa pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular dapat menciptakan nilai tambah sekaligus menyelesaikan masalah lingkungan,” tegasnya.
BUMDes Margamulya kini tengah mempersiapkan produksi pakan mash kulit kopi dalam skala lebih besar untuk memenuhi kebutuhan peternak di luar desa. Prof Yuli berharap, dukungan dari IPB University lewat Dospulkam ini bisa mendorong pengembangan teknologi pengolahan yang lebih efisien dan higienis.
“Ke depan, Ciwidey ditargetkan menjadi desa percontohan pengolahan limbah kopi berkelanjutan di Indonesia, yang dapat ditiru oleh daerah penghasil kopi lainnya seperti Garut, Temanggung, atau Aceh Gayo,” tuturnya.
BACA JUGA:Keren! 15 Ton Kopi Arabika Bajawa Senilai Rp1,5 Miliar Diekspor ke Thailand
Dengan inovasi ini, limbah yang dulunya dianggap masalah kini berubah menjadi berkah bagi peternak dan lingkungan desa.
Model bisnis ini juga membuka peluang ekonomi baru yang dapat meningkatkan pendapatan desa melalui produksi dan penjualan pakan berbahan kulit kopi.