Rupiah Anjlok ke Rekor Terlemah, Tekanan Sentimen Global dan Domestik Meningkat

Rupiah Anjlok ke Rekor Terlemah, Tekanan Sentimen Global dan Domestik Meningkat

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam dan hampir menyentuh level hingga Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat--Pinterest

KALTARA, DISWAY.ID - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam dan hampir menyentuh level hingga Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat, hal ini mencerminkan keprihatinan investor terhadap kombinasi faktor sentimen global dan domestik yang semakin menekan mata uang Indonesia.

Pada perdagangan pekan ini, rupiah berada di kisaran Rp 16.9 ribu nyari Rp 17.0 ribu per dolar Amerika Serikat di pasar spot dan pasar non-deliverable forward (NDF), sebuah posisi yang megindikasikan pelemahan signifikan sejak awal tahun 2026.

Para pelaku pasar masih mencermati perkembangan kebijakan moneter dan fiskal Indonesia, termasuk isu independensi Bank Indonesia dan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit anggaran, di tengah ketidakpastian global yang turut memengaruhi arus modal investasi.

BACA JUGA:BTN Berperan Aktif Dukung Danantara Bangun Huntara Bagi Masyarakat Terdampak Bencana di Aceh Tamiang

Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dan kini mendekati level hingga Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat, setelah mencatat pelemahan di beberapa sesi perdagangan terakhir, sekaligus menempatkan mata uang Indonesia dalam kelompok yang tertekan di pasar negara berkembang.

Di pasar spot, rupiah tercatat berada di sekitar 16.9 ribu per dolar AS, sementara kontrak di pasar non-deliverable forward sempat menunjukkan level lebih dari Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat, hal tersebut menandai risiko yang makin menguat bagi pelaku pasar.

Pelemahan nilai mata uang rupiah yang belakangan ini terjadi karena adanya beberapa faktor sentimen eksternal. Ketidakpastian di pasar global masih tinggi akibat dari dinamika geopolitik dan perubahan selera risiko investor di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.

Meski indeks dolar AS sempat melemah di awal minggu, arus modal global tetap cenderung mengalir ke aset-aset yang dianggap lebih aman, mengurangi permintaan terhadap mata uang berkembang termasuk rupiah.

Di dalam negeri, isu ketidakpastian kebijakan fiskal dan independensi bank sentral turut memperburuk sentimen pasar terhadap rupiah. Kekhawatiran meningkat setelah kabar tentang pengisian posisi strategis di Bank Indonesia memicu spekulasi mengenai kemungkinan masuknya pengaruh politik ke dalam lembaga yang selama ini dianggap independen oleh para investor.

BACA JUGA:Tips Pintar untuk Mahasiswa agar Hemat Kelola Keuangan dan Gaya Hidup

Hal tersebut diyakini menjadi salah satu alasan investor asing menahan atau menarik sebagian portofolio mereka yang dapat memperberat tekanan pada rupiah. Selain itu, kondisi defisit anggaran yang melebar menjadi sorotan di pasar.

Data terbaru menunjukkan defisit fiskal Indonesia pada tahun sebelumnya mendekati batas yang diizinkan oleh undang-undang yang memicu kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan kemampuan negara mengelola anggaran secara efektif.

Kekhawatiran semacam ini sering kali diterjemahkan oleh pasar sebagai risiko makroekonomi yang lebih besar sehingga investor cenderung menghindari mata uang yang terkait dengan risiko tersebut. Permintaan dolar dari sektor impor juga menjadi bagian dari gambaran pelemahan rupiah.

Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah komoditas penting dan bahan baku industri, sehingga kebutuhan devisa meningkat. Saat permintaan dolar lebih tinggi daripada pasokan dari ekspor atau arus modal masuk, nilai tukar rupiah akan tertekan.

Sumber: