Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Jadi Titik Terlemah Sepanjang Sejarah
Tercatatkan per 12 Mei 2026 nilai rupiah melemah hingga mencapai Rp 17.500--Magnific (Freepik)
KALTARA, DISWAY.ID - Rupiah melemah, dolar AS, dan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pasar setelah mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa pagi.
Tekanan terhadap rupiah melemah, penguatan dolar AS, dan pergerakan nilai tukar rupiah menjadi Rp 17.500 terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global dan arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang.
Selain itu fluktuasi nilai tukar rupiah juga diikuti dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun lebih dari satu persen pada sesi perdagangan awal hari ini. Hal tersebut terjadi karena nilai rupiah melemah, lonjakan untuk nilai dolar AS yang hingga per 12 Mei 2026 sudah tercatat mencapai Rp 17.500.
BACA JUGA:Tarakan Catatkan Penurunan Pengangguran Terendah dalam 15 Tahun Terakhir
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Kondisi tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah sepanjang sejarah dan memicu perhatian besar dari pelaku pasar maupun masyarakat.
Berdasarkan sejumlah laporan pasar keuangan pagi ini, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.502 hingga Rp17.512 per dolar AS di pasar spot. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan dolar AS di pasar global dan tekanan yang terus membayangi mata uang negara berkembang.
Tidak hanya rupiah, tekanan juga terlihat pada pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun lebih dari 1 persen pada perdagangan pagi seiring meningkatnya aksi jual investor asing dan sentimen negatif dari pasar global.
Analis menilai penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang membuat rupiah semakin tertekan. Ketidakpastian ekonomi global, tensi geopolitik di Timur Tengah, hingga kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi membuat investor memilih aset safe haven seperti dolar AS.
Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti kondisi dalam negeri mulai dari kebutuhan dolar untuk pembayaran impor, utang luar negeri, hingga pembagian dividen perusahaan yang meningkatkan permintaan mata uang Amerika Serikat.
BACA JUGA:Penyebab Karhutla di Nunukan Masih Diselidiki, BNPB dan Tim Gabungan Perkuat Langkah Pencegahan
Ekonom menilai level Rp17.500 menjadi titik psikologis penting bagi pasar keuangan Indonesia. Angka tersebut memunculkan kekhawatiran baru karena mendekati level yang sebelumnya belum pernah bertahan lama dalam sejarah perdagangan rupiah.
Di sisi lain, Bank Indonesia disebut terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah agar pelemahannya tidak bergerak terlalu tajam. Intervensi dilakukan melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.
Pelaku pasar saat ini masih menunggu langkah lanjutan dari otoritas keuangan dan pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Beberapa analis menilai ruang penguatan rupiah masih cukup terbatas selama tekanan global belum mereda dan dolar AS masih berada dalam tren kuat.
Pelemahan rupiah juga mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang impor. Produk elektronik, gadget, bahan baku industri, hingga biaya perjalanan luar negeri berpotensi mengalami kenaikan apabila kurs dolar tetap tinggi dalam waktu lama.
Sumber: