Mengapa Februari Kadang 28, Kadang 29 Hari?

Mengapa Februari Kadang 28, Kadang 29 Hari?

Mengenal tahun kabisat--freepik

KALTARA, DISWAY.ID - Setiap tahun bulan Februari hampir selalu memunculkan pertanyaan yang sama, mengapa jumlah harinya tidak pernah konsisten seperti di bulan lain? Saat Januari berakhir dengan 31 hari dan Maret juga selalu menyusul dengan jumlah yang sama, tetapi Februari tampil dengan berbeda untuk jumlah harinya.

Perbedaan ini sering dianggap sebagai keunikan semata, padahal di baliknya terdapat sistem penyesuaian waktu yang penting dan bersifat ilmiah, yaitu tahun kabisat. Konsep tahun kabisat dibuat untuk mengatasi ketidaksesuaian antara kalender yang digunakan manusia dengan waktu sebenarnya yang dibutuhkan bumi untuk mengelilingi matahari.

Tanpa mekanisme ini, kalender akan terus mengalami pergeseran secara perlahan, hingga akhirnya musim dan penanggalan tidak lagi berjalan seiringan. Oleh karena itu, perubahan jumlah hari di bulan Februari bukan sebuah kebetulan, melainkan bagian dari upaya menjaga ketepatan waktu dalam jangka panjang.

BACA JUGA:Tidak Semua Orang Tahu, Es Gabus ternyata Tak Terbuat Dari Spons, Begini cara Buatnya!

Mengapa Februari Selalu Jadi Bulan Paling Pendek?

Februari serinng dianggap sebagai bulan yang paling berbeda dalam kalender. Saat bulan lain konsisten memiliki 30 dan 31 hari, Februari justru memiliki jumlah hari yang tidak tetap. Dalam sebagain besar tahun, Februari berakhir pada tanggal 28, tetapi pada tahun tertentu bisa bertambah satu hari menjadi 29. Tanpa disadari, perbedaan ini bukan sebuah kebetulan, melainkan berkaitan erat dengan sistem penyesuaian waktu yang dikenal sebagai tahun kabisat.

Apa Itu Tahun Kabisat?

Tahun kabisat adalah tahun yang memiliki total 366 hari, berbeda dari tahun biasa yang hanya selesai sampai 365 hari. Penambahan satu hari ini dilakukan untuk menyesuaikan kalender dengan waktu sebenarnya yang dibutuhkan oleh bumi untuk mengelilingi matahari.

Secara astronomi, satu tahun matahari berlangsung sekitar 365 hari 5 jam 48 menit. Selisih hampir enam jam inilah yang jika dibiarkan maka akan membuat kalender semakin melenceng dari siklus musim.

Untuk menghindari pergeseran tersebut, sistem kalender menambahkan satu hari setiap empat tahun sekali. Akumulasi selisih waktu selama empat tahun kurang lebih setara dengan satu hari penuh, sehingga penambahan ini membuat kalender tetap sinkron dengan peredaran bumi.

BACA JUGA:Dari Perhatian Berlebihan hingga Pengabaian, Memahami Pola Love Bombing

Kenapa Tambahan Hari Selalu Jatuh di Februari?

Pertanyaan ini sering muncul ketika membahas tahun kabisat. Alasan utama terletak pada sejarah pembentukan kalender, pada masa Romawi kuno Februari ditempatkan sebagai bulan terakhir dalam kalender dan diberi jumlah hari paling sedikit.

Ketika dilakukan reformasi kalender, termasuk pada masa Julius Caesar, Februari tetap dipertahankan sebagai bulan dengan struktur hari yang paling fleksibel. Maka dari itu saat diperlukan penambahan satu hari, Februari menjadi pilihan paling logis. Hingga kini, tradisi tersebut terus dipertahankan dalam sistem kalender modern.

Aturan Khusus dalam Kalender Gregorian

Meskipun tahun kabisat umumnya terjadi pada setiap empat tahun sekali, tidak semua tahun yang habis dibagi empat otomatis menjadi tahun kabisat. Dalam kalender Gregorian yang digunakan secara global saat ini, terdapat aturan tambahan untuk menjaga ketepatan jangka panjang.

BACA JUGA:Salad Mentimun, Menu Sederhana dengan Rasa Segar yang Tidak Pernah Gagal

Tahun yang habis dibagi 100 tidak dianggap sebagai tahun kabisat, kecuali juga habis dibagi 400. Sebagai contoh, tahun 1900 bukan tahun kabisat meskipun habis dibagi empat, sedangkan tahun 2000 tetap menjadi tahun kabisat karena habis dibagi 400. Aturan ini dibuat untuk menimalkan selisih waktu antara kalender dan tahun matahari.

Mengapa Tahun Kabisat Tetap Penting Hingga Sekarang?

Sumber: