Mengenal Board of Peace, Inisiatif Perdamaian Global Bentukan Donald Trump

Mengenal Board of Peace, Inisiatif Perdamaian Global Bentukan Donald Trump

Mengenal Board of Peace--The Citizen

KALTARA, DISWAY.ID - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan konflik berkepanjangan di berbagai belahan dunia, sebuah inisiatif baru bernama Board of Peace muncul dan langsung berhasil menarik perhatian komunitas internasional.

Dewan perdamaian yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada Januari 2026 ini diklaim sebagai upaya alternatif untuk mendorong penyelesaian konflik global melalui pendekatan dialog, stabilisasi, dan rekonstruksi wilayah yang terdampak konflik.

Maka dengan kehadiran Board of Peace dianggap bisa menjadi solusi untuk bisa mencapai perdamaian dan pembentukan ini juga mendapatkan banyak respons, mulai dari dukungan sejumlah negara serta kritik yang mempertanyakan legitimasi dan perannya di tengah sistem diplomasi internasional yang selama ini telah dijalankan oleh PBB.

BACA JUGA:Indonesia Resmi Bergabung dalam Board of Peace Buatan Donald Trump

Sebuah inisiatif baru bernama Board of Peace menjadi sorotan dunia setelah diperkenalkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sebagai upaya untuk meredakan konflik internasional dan memperluas misi perdamaian global.

Board of Peace diumumkan secara resmi pada 15 Januari 2026 dan dirancang sebagai organisasi internasional yang bertujuan untuk mempromosikan stabilitas, memulihkan pemerintahan yang sah, dan mengamankan perdamaian berkelanjutan di wilayah yang terdampak atau terancam konflik.

Menurut laporan, Board of Peace difokuskan pada penyelesaian konflik di Jalur Gaza, tetapi segera diperluas tujuannya untuk merangkul penyelesaian berbagai konflik global lainnya. Beberapa negara yang sudah menyatakan untuk ikut bergabung dengan Board of Peace adalah Arab Saudi, Turkiye, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, Qatar, dan Uni Emirat Arab melalui pernyataan yang dirilis oleh negara-negara tersebut.

Keikutsertaan Indonesia dianggap menjadi bagian dari langkah diplomasi global di bawah payung Board of Peace, meski reaksi publik hadir dengan beragam di media sosial terkait dengan keputusan tersebut.

Namun tidak semua negara menyambut inisiatif ini. Beberapa negara Eropa, seperti Prancis, Norwegia, Slovenia, dan Swedia telah menolak undangan untuk ikut bergabung, sementara negara-negara besar lainnya masih menimbang untuk mengambil keputusannya.

BACA JUGA:Jam Malam Pelajar Resmi Berlaku di Nunukan, Pemkab Batasi Aktivitas Anak Sekolah Malam Hari

Board of Peace dipimpin oleh Donald Trump sebagai chairman dengan Dewan Eksekutifnya yang terdiri dari tokoh-tokoh internasional dan sekutu Amerika. Organisasi ini akan menyelenggarakan struktur kepengurusan yang mencakup berbagai komite dan lembaga transisi yang fokus pada rekonstruksi dan stabilisasi wilayah konflik.

Dalam piagam awalnya, terdapat ketentuan bahwa negara anggota dapat menjadi anggota tetap dengan kontribusi finansial senilai US$1 miliar yang kemudian membuka diskusi tentang peran geopolitik dan legitimasi organisasi di panggung internasional.

Reaksi pun beragam yang muncul, beberapa pemerhati kebijakan luar negeri menyatakan keprihatinan, bahwa Board of Peace justru dapat melemahkan peran dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam penanganan konflik global jika tidak diposisikan dengan mekanisme kerja sama yang jelas dan transparan.

Sementara itu, pendukung dari inisiatif Donald Trump itu menekankan pentingnya pendekatan baru dalam mediasi konflik, terutama di kawasan yang telah lama mengalami stagnasi diplomatik dan kekerasan yang berkepanjangan.

Sumber: