Mengapa Remaja Mudah Tertarik pada Groomer? Kerentanan Remaja terhadap Manipulasi Emosional

Mengapa Remaja Mudah Tertarik pada Groomer? Kerentanan Remaja terhadap Manipulasi Emosional

Kenapa remaja rentan jadi korban child grooming?--freepik

KALTARA, DISWAY.ID - Remaja berada di fase hidup yang unik, mereka tengah mencari identitas, ingin diakui, dan sering membutuhkan rasa dihargai atau dipahami oleh orang lain dan ketika kebutuhan emosional tersebut tidak sepenuhnya terpenuhi oleh orang sekitarnya maka itu akan dengan mudah dimanfaatkan sebagai sebuah kesempatan.

Fenemona itu bukan hadir sebagai kebetulan, melainkan sebuah pola yang selalu digunakan oleh pelaku child grooming kepada para korbannya untuk bisa masuk ke dalam kehidupannya dan membangun hubungan dekat agar bisa dipercaya dan memanipulasinya.

Child grooming awalnya bisa terjadi karena biasanya para pelaku sudah paham dengan kondisi psikologis dan sosial khas masa remaja yang membuat mereka lebih rentan terhadap pendekatan yang manipulatif, terutama di ruang digital di mana interaksi bisa berlangsung tanpa adanya batasan langsung dan pengawasan orang tua.

BACA JUGA:Memahami Child Grooming Saat Perhatian Berubah Menjadi Manipulasi, Begini Polanya!

Salah satu alasan utama kenapa remaja rentan terhadap grooming karena mereka, para korban secara psikologis masih dalam proses perkembangan. Otak remaja, khususnya bagian prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pertimbangan risiko dan kontrol impuls, belum matang sepenuhnya.

Hal tersebut yang membuat mereka lebih mudah mencari koneksi emosional yang intens, terutama jika disuguhkan dengan perhatian dan dukungan yang awalnya terlihat tulus dari orang lain.

Selain itu, kebutuhan validasi sosial pada remaja juga sangat tinggi. Tidak jarang remaja mencari pengakuan dari teman sebaya atau figur yang mereka anggap dapat mengerti. Pelaku grooming bisa mengeksploitasi kebutuhan ini dengan memberikan pujian yang berlebihan, perhatian terus-menerus, atau bersedia untuk mendengarkan masalah mereka secara lebih baik dibandingkan dengan orang dewasa di sekitar mereka.

Faktor lain adalah tekanan sosial dan digital. Media sosial dan lingkungan daring memberikan ruang anonim dan peluang pertemuan tanpa adanya batas usia. Dalam konteks ini, pelaku bisa menyamar sebagai sesama remaja, membuat korbannya bisa merasa aman dan lebih membuka diri padahal di balik itu bisa ada motif manipulatif dan eksploratif yang membahayakan.

Situasi ini menjadi semakin kompleks karena remaja sering berinteraksi melalui layar, di ruang digital ekspresi wajah dan bahasa tubuh tidak bisa terlihat, sehingga korban bisa salah menafsirkan niat pelaku.

BACA JUGA:Duh! Gadget Kikis Kualitas Ruang Interaksi Keluarga di Rumah, Berdampak pada Kecerdasan Anak

Komunikasi daring bisa mempercepat ikatan emosional karena intensitas pesan yang tinggi, tetapi tanpa konteks sosial yang lengkap. Memahami mengapa remaja rentan mengalami child grooming tidak hanya membantu orang dewasa untuk bisa lebih waspada, tetapi juga bisa menekankan pentingnya melakukan edukasi emosional dan penggunaan digital dengan bijak sedini mungkin, termasuk kemampuan dalam membedakan hubungan yang sehat dengan manipulatif.

Sumber: