Memahami Child Grooming Saat Perhatian Berubah Menjadi Manipulasi, Begini Polanya!
Memahami child grooming dan polanya--freepik
KALTARA, DISWAY.ID - Ketika sedang membahas kekerasan terhadap anak, istilah child grooming mungkin belum terlalu familiar bagi kebanyakan orang, padahal praktik ini bisa menjadi gerbang awal yang berbahaya menuju eksploitasi dan pelecehan yang jauh lebih luas.
Child Grooming bukan sekedar dekat dengan anak, tetapi bagaimana proses manipulasi yang terjadi di mana para pelaku yaitu orang dewasa yang secara sengaja membangun hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja yang masih di bawah umur untuk mendapatkan kepercayaan mereka.
Setelah mendapatkan kepercayaan, secara bertahap para pelaku child grooming mulai mempengaruhi, mengontrol, dan mengeksploitasi korban demi kepentingan pelaku sendiri. Banyak korban yang tidak menyadari pola awal dari child grooming karena biasanya akan dimulai dengan membawa kehangatan hingga akhirnya berubah menjadi sebuah kekerasan, membuat para orang tua harus memahami child grooming yang sebenarnya dan bagaimana pola child grooming biasanya terjadi
BACA JUGA:Duh! Gadget Kikis Kualitas Ruang Interaksi Keluarga di Rumah, Berdampak pada Kecerdasan Anak
Child grooming sering terjadi secara bertahap dan terstruktur bukan sekaligus. Pada permulaan hubungan, pelaku memperlihatkan diri sebagai sosok yang peduli atau sangat memaklumi apa yang dirasakan anak, hal tersebut adalah sesuatu yang membuat korban menjadi terasa nyaman, istimewa, bahkan merasa dipahami.
Menurut pengertian dari literatur dan penjelasan dari para ahli, grooming adalah pendekatan yang sistematis dan dilakukan untuk bisa menciptakan ikatan emosional sebagai jalan masuk sebelum para pelaku mulai mendorong interaksi yang lebih intim dan berbahaya.
Pelaku akan melakukan beberapa langkah berikut:
- Membangun hubungan dan kepercayaan: Pelaku akan menunjukkan perhatian yang luar biasa, melalui hadiah, pujian, dukungan, atau waktu bersama. Hal tersebut yang membuat korban merasa dihargai dan menjadi kurang waspada terhadap niat sebenarnya.
- Isolasi emosional: Secara perlahan, pelaku akan mencoba mengurangi dukungan dari orang tua atau teman dari korban, bahkan terkadang meminta korban merahasiakan obrolan mereka menjadi sebuah "rahasia manis".
- Eksploitasi dan manipulasi: Setelah kepercayaan berhasil didapatkan dan korban mulai menjauh secara emosional dengan keluarga dan sahabat, pelaku mulai mendorong batasan hingga mendorong percakapan yang tidak pantas atau akhirnya melakukan tindakan yang lebih jauh dan berbahaya.
BACA JUGA:Nasib 12 Shio di Tahun Kuda Api, Semoga Kamu Beruntung
Proses ini tidak selalu cepat karena bisa berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan yang membuat korban tidak menyadari bahwa perilaku dari pelaku yang tampak hangat, baik, dan terasa suportif merupakan bagain dari skenario manipulatif yang nantinya bisa lebih jauh berbahaya.
Banyak anak juga sulit untuk mengidentifikasi bahwa apa yang sebenarnya sedang terjadi adalah sebuah bentuk kekerasan, karena pelaku sering memakai pendekatan yang tampak normal atau bahkan positif pada awalnya.
Penting untuk dicatat bahwa grooming bisa terjadi secara daring (online) maupun tatap muka, sehingga ancaman ini tidak terbatas pada lingkungan tertentu saja. Interaksi digital melalui media sosial, game online atau aplikasi pesan bisa memberikan ruang bagi pelaku untuk mendekati anak tanpa adanya pengawasan dari orang tua.
Mengetahui pola dari child grooming bukan hanya soal apa yang dilakukan oleh pelaku, tetapi kenapa korban bisa terjebak tanpa sadar dan itu membantu orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk membantu tanda bahaya lebih awal.
Sumber: